cerpen singkat tentang sekolah
Cerita Pendek Tentang Sekolah: Cerita Dibalik Papan Tulis
1. Aroma Kapur dan Impian:
Mentari pagi menembus celah jendela kelas, menyinari debu kapur yang beterbangan. Aroma khas sekolah, campuran kapur tulis, buku-buku tua, dan sedikit bau pel kering, langsung menyergap indra penciuman Rina. Ia tersenyum tipis. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi juga rumah kedua. Hari ini adalah hari Senin, hari yang selalu ia nantikan. Bukan karena mata pelajaran yang menarik, melainkan karena ia bisa bertemu kembali dengan sahabat-sahabatnya dan, yang terpenting, melihat senyum Pak Budi, guru matematikanya yang sabar.
Pak Budi bukan hanya mengajarkan angka dan rumus, tapi juga mengajarkan arti ketekunan dan kesabaran. Ia selalu menekankan bahwa matematika bukan momok yang menakutkan, melainkan alat untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Rina, yang awalnya membenci matematika, perlahan mulai menyukainya. Ia bahkan bercita-cita menjadi seorang insinyur, terinspirasi dari Pak Budi yang selalu bersemangat menjelaskan konsep-konsep rumit.
Namun, di balik semangatnya belajar, Rina menyimpan sebuah rahasia. Ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci, sementara ayahnya menjadi tukang ojek. Ia sadar bahwa biaya sekolah semakin mahal, dan ia tidak ingin menjadi beban bagi keluarganya. Ia bertekad untuk mendapatkan beasiswa agar bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Setiap malam, ia belajar dengan tekun, ditemani lampu minyak yang redup dan suara jangkrik yang bersahutan. Ia yakin, dengan kerja keras dan doa, impiannya akan terwujud.
2. Persahabatan di Kantin Sekolah:
Suara riuh rendah terdengar dari kantin sekolah saat jam istirahat tiba. Ani, Budi, dan Citra duduk di bangku pojok, menikmati bekal makan siang mereka. Ani membawa nasi goreng buatan ibunya, Budi membawa roti isi cokelat, dan Citra membawa buah-buahan segar. Mereka bertiga adalah sahabat karib sejak kelas satu. Mereka selalu bersama, baik suka maupun duka.
Ani adalah seorang gadis yang ceria dan periang. Ia selalu membawa keceriaan dalam setiap suasana. Budi adalah seorang anak yang pendiam dan pemalu. Ia lebih suka membaca buku daripada berbicara. Citra adalah seorang gadis yang pintar dan rajin. Ia selalu menjadi juara kelas. Meskipun memiliki karakter yang berbeda, mereka saling melengkapi dan mendukung satu sama lain.
Hari ini, Budi tampak murung. Ani dan Citra menyadari perubahan raut wajah sahabatnya itu. Mereka bertanya apa yang terjadi. Budi akhirnya bercerita bahwa ia merasa kesulitan dalam pelajaran fisika. Ani dan Citra langsung menawarkan bantuan. Mereka berjanji akan belajar bersama setiap sore di rumah Budi.
Persahabatan mereka bukan hanya sekadar teman bermain. Mereka saling membantu dalam belajar, saling mendukung dalam meraih cita-cita, dan saling menghibur saat sedang bersedih. Mereka tahu bahwa persahabatan mereka akan abadi, meskipun waktu dan jarak memisahkan mereka. Kantin sekolah menjadi saksi bisu persahabatan mereka yang tulus dan abadi.
3. Bullying di Lorong Sekolah:
Lorong sekolah yang sepi menjadi saksi bisu tindakan bullying yang dialami oleh Doni. Setiap hari, ia menjadi korban ejekan dan intimidasi dari sekelompok siswa yang lebih besar. Mereka mengejek penampilannya, merampas uang sakunya, dan bahkan memukulnya. Doni merasa takut dan malu. Ia tidak berani melawan karena takut mereka akan semakin menyakitinya.
Ia selalu berusaha menghindar dari mereka, tapi mereka selalu berhasil menemukannya. Lorong sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman, berubah menjadi tempat yang menakutkan baginya. Ia merasa sendirian dan tidak berdaya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Suatu hari, ia memberanikan diri untuk menceritakan masalahnya kepada wali kelasnya. Wali kelasnya sangat terkejut dan berjanji akan menindaklanjuti masalah ini. Ia memanggil orang tua Doni dan orang tua para pelaku bullying. Setelah melalui proses mediasi, para pelaku bullying akhirnya mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf kepada Doni.
Doni merasa lega dan bersyukur. Ia tidak lagi merasa takut dan malu. Ia berjanji akan lebih berani dan tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban bullying lagi. Lorong sekolah kembali menjadi tempat yang aman baginya. Kisah Doni menjadi pelajaran bagi semua siswa bahwa bullying adalah tindakan yang salah dan tidak boleh ditoleransi.
4. Cinta Pertama di Perpustakaan:
Perpustakaan sekolah menjadi tempat yang tenang dan nyaman bagi Sarah untuk belajar dan membaca buku. Ia suka menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan, mencari buku-buku baru yang menarik. Di perpustakaan inilah ia bertemu dengan Arya.
Arya adalah seorang siswa kelas XII yang sering membantu penjaga perpustakaan. Ia ramah dan suka membantu orang lain. Sarah sering meminta bantuan Arya untuk mencari buku yang ia butuhkan. Dari situlah, mereka mulai berkenalan dan saling berbicara.
Sarah merasa nyaman berada di dekat Arya. Ia menyukai senyumnya yang manis dan suaranya yang lembut. Ia mulai menyadari bahwa ia menyukai Arya. Namun, ia takut untuk mengungkapkan perasaannya. Ia takut Arya tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Suatu hari, Arya memberikan sebuah buku puisi kepada Sarah. Di dalam buku itu, Arya menulis sebuah pesan yang mengungkapkan perasaannya kepada Sarah. Sarah sangat terkejut dan bahagia. Ia tidak menyangka bahwa Arya juga menyukainya.
Mereka akhirnya berpacaran. Perpustakaan sekolah menjadi saksi bisu cinta pertama mereka. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, belajar dan membaca buku bersama. Cinta mereka tumbuh di antara rak-rak buku yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
5. Perpisahan di Halaman Sekolah:
Halaman sekolah dipenuhi dengan siswa-siswi kelas XII yang sedang merayakan kelulusan mereka. Suasana haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Mereka akan segera meninggalkan sekolah yang telah menjadi rumah kedua mereka selama tiga tahun.
Rani, seorang siswi yang aktif dan berprestasi, berdiri di atas panggung, memberikan pidato perpisahan. Dengan suara yang bergetar, ia mengucapkan terima kasih kepada guru-guru yang telah membimbing mereka selama ini. Ia juga menyampaikan pesan kepada adik-adik kelas untuk terus belajar dan meraih cita-cita mereka.
Setelah pidato, Rani menghampiri teman-temannya. Mereka saling berpelukan dan mengucapkan selamat tinggal. Mereka berjanji akan tetap menjaga komunikasi dan tidak akan melupakan kenangan indah yang telah mereka lalui bersama di sekolah.
Matahari mulai terbenam. Halaman sekolah yang tadinya ramai, kini mulai sepi. Rani menatap sekolahnya untuk terakhir kalinya. Ia merasa sedih dan terharu. Ia tahu bahwa ia akan merindukan sekolahnya, teman-temannya, dan guru-gurunya. Namun, ia juga merasa bahagia dan optimis. Ia siap untuk menghadapi tantangan baru di masa depan. Halaman sekolah menjadi saksi bisu perpisahan mereka, awal dari sebuah perjalanan baru yang penuh dengan harapan dan impian.

